Puisi Bukan Milik Penyair (Catatan Pembebasan Puitik Ferry Arbania)
Puisi Bukan Milik Penyair (Catatan Pembebasan Puitik Ferry Arbania) Dalam menulis karya sastra, saya pikir tidak perlu lagi 'melihat' diri kita sebagai pribadi. Entah itu pribadi sebagai ustadz/ustadzah,guru tetap, PNS, Kiyai dan Nyai, pejabat atau bahkan abang becak sekalipun. Dalam menulis puisi, siapapun berhak menyuarakan pengalaman batinnya menjadi sebuah bait bahkan beribu-ribu bait larik puisi. Lebih dari itu, konteks menulis puisi, tidak perlu menunggu karya kita diminta secara halus oleh sebuah kolom surat kabar ataupun media online. Teruslah menulis dengan hati, dengan apa yang kamu lihat dan rasakan. Tak perlu berpikir untuk apa Anda menulis. Penyair lahir dengan puisi-puisinya. Bukan rencana tuisan yang menumpuk! Tak perlu terkecoh dengan aturan dan rumus-rumus yang sastra yang kadang hanya menyesakkan dada. Jika kau punya Tuhan, katakan pada dunia tentang cinta dan pengabdianmu. Jika kau lagi kasmaran dengan kekas...