Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Rumah Bonsai Sumenep Ternyata Ada di Desa Karay Kecamatan Ganding

Gambar
|Ferry Arbania|Banyak orang tak menyangka kalaun kehidupan masyarakat Desa Karay yang berada di Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep penuh dengan bonsai. Bonsai-bonsai nan indah itu mereka gali bahannya dari alam bebas. Sebagin besar anak muda ini sudah puluhan tahun silam dikenal sangat terampil membentuk bonsai-bonsai berkelas. Maka tak heran, ada yang menjualnya dengan harga puluhan juta rupiah. Seiring jaman digitalisasi, anak muda di Dusun Mandala, Desa Karay ini pun menjual Bonsai mereka secara online dan offline. Bonsai serut hasil karya Rumah Bonsai Sumenep  Bahkan, saking majunya bonsai di daerah ini, anak mudanya membuat komunitas sesama pecinta bonsai yang diberi nama RUMAH BONSAI SUMENEP (RBS).  Rumah bonsai ini jiga menjadi Galeri jual beli bonsai yang memudahkan masyarakat luas yang hendak berkunjung atau ingin membeli bonsai karya anak kampung yang kreatif ini. Silahkan anda WA: 081934935500 (Rumah Bonsai Sumenep). Salam settong ate..

Jurnalis Dan "Binatang" Yang Diberi Harkat Manusia

Gambar
|Ferry Arbania| Bagi kalangan koruptor ataupun pelaku kriminal hingga penjahat kelamin lainnya, kehadiran para jurnalis (bisa jadi) dianggap  sebagai gerombolan "binatang" (baca:Akulah Binatang Jalang seperti sajaknya Chairil Anwar) yang kerap pembawa sial sekaligus dinilai sebagai pengacau bagi kepentingan konspirasi besar mereka. " Yah itu pasti ada yang menyebut (baca:menyumpahi) kita dengan sebutan binatang. Tak apalah!  kalaupun ada yang setega itu. Bisa jadi pula mereka itu  tak terima kejahatannya di publikasi dalam bentuk berita. Saya memang Jurnalis dan saya adalah binatang," demikian kira-kira dialog imajenir saya dengan para jahannam itu. Astaghfirullah. Tapi...  Kalau di pikir-pikir, kita semua ini memang binatang yang disempurnakan oleh Allah Swt menjadi paling indahnya mahluk. Derajat kemahlukan kita pun diangkat dengan dipasangnya akal dalam otak manusia. Akal inilah yang kemudian menjadi pembeda antara binatang beneran dengan kita yang diperc...

Menjadi Jurnalis Itu Takdir

Gambar
Sejak kelas empat Madrasah Ibtidaiyah di kampung halaman, hari-hari kecil saya selalu diajar oleh guru dan lingkungan keluarga untuk selalu memahami apa itu manusia, kenapa harus sekolah, kenapa pulaperlu belar akhlak dan bertatakrama? Selebihnya, orang-orang didekat saya, guru dan lingkungan religi, secara tak langsung mengajariku untuk memahami keadaan, meski kuyakin seusiaku dulu tak mampu memahaminya dengan baik. Namun satu hal yang sampai sekarang membekas, yakni sajak cinta dan puisi kehidupan. Hari-hari oenuh puisi hingga jurusan sastra di ruang kampus. Tapi.. Entahlah, Tuhan "menyeret" ku kedalam kubangan Jurnalis yang penuh sakwa sangka. Sampai pada bertamu sesungguhnya, ada mata dan hati yang menyelipkan curiga sembari membisik orang disekitarnya, "Hati-hati bicara,yang ngomong sama kita ini wartawan loh", kira-kira begitylu redaksinya. Sedih juga sih, kalau niat tulus bersilaturrahim kemudian dicurigai sebagai "pemancing dan perekam" pembicaraa...