Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Pelaminan Jiwa

by: Ferry Arbania Disini aku mengaji mimpimu menepis segala keraguan ... demi menyempurnakan hasrat ilalang walau tak pasti kehidupan cinta ingin kujelaskan sekali lagi tentang rasa agar jenuh tak merecoki jiwa agar kesendirian ilusi membakar sakwa sangka kau tetap kunikahi dengan sajak-sajak setia barangkali inilah awal dari akhir cemasmu mengangkangi lipatan kecil keputus asaan waktu lalu datang kembali pada muara tempat kita memandikan asmara purnama akh cinta kelewat sempurna menyatakan kecewa Sumenep, 29 Okt 2010 22.10

Kutanya Bulan

by: Ferry Arbania sumenep bergetar dalam dingin adakah sentuhan rembulan malam ini yang sanggup mengantarkan hari pada hangatnya pelukan....????

Kunikahi Diammu II

(Sepasang Bibir Merah Jingga) by: Ferry Arbania (Ferry Nadafm) jika harus patah menjadi dua pada siapa lagi kuhabiskan ciuman ini entah berapa kali kau kembangkan senyuman pad sepasang bibir merah jingga yang membara jika hati benar-benar jatuh dalam pelukan rona cahaya mana lagi yang akan menunggui kegelapan asmara kau tampak seprti merpati sedang lainnya mengumbar cahaya dalam nikah diamku aku tanya padamu hari ini bisakah kunikahi diammu sedang abjad-abjad keberanianku telah luntur menjadi keputus asaan akh, cinta menikahlah dengan rasa didada ini Soengenep, 20 Okt.2010 16:20

Waduh, Facebook Tak Bisa Lindungi Foto yang Dihapus

Saat Anda melihat foto yang memalukan di Facebook, langkah pertama mungkin menghapusnya. Namun, Facebook tidak benar-benar melenyapkan foto itu. Facebook mungkin memiliki perkembangan signifikan menyangkut privasi, namun perusahaan ternyata belum sepenuhnya menghapus foto pengguna yang tidak diinginkan. Facebook merupakan salah satu pelanggar terburuk menyangkut penghapusan gambar online. Seorang pengguna menginformasikan bahwa foto yang sudah dihapusnya kembali muncul 16 bulan kemudian. Saat dikonfirmasi ke pihak Facebook, mereka mengatakan bahwa gambar yang telah dihapus tidak bisa diakses meskipun masih ada di server. Padahal, jika punya link langsung ke gambar tersebut, maka tetap bisa diakses. Facebook juga megatakan bahwa mereka bekerja sama dengan mitra CDN untuk mengurangi secara signifikan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk membuat salinan cadangan. Meskipun begitu, perusahaan menegaskan kebijakan tidak mengizinkan mereka untuk mempublikasikan gambar tersebut. “Untu...

Melerai Cinta

by: Ferry Arbania Untuk apalagi kau menjanda dipulau cinta sesobek kain putih sehabis malam pertama belum juga kau cuci dengan hasratku yang entah dimana pagi kau mengerang malam kau mendesah dan merayap disela kantuk dini hari kucoba pahami lagi liuk tubuhmu tarianmu memang luar biasa kuselami kedalaman napasmu kau memang tak mudah menggelinjang diranjang akalku kucoba menjauh dari gigitan waktu kau mengepungku dengan bayangan cinta] kupalingkan nyanyian bidadari namun irama rambutmu kian lekat menari menggosok leher dan bibirku hingga tak teraasa aku memelukmu dikamar mandi hari ini kunyatakan lagi keberatanku keterganjalanku atas statusmu permaisuri yang pulang pergi dari kelamin tapi bukan kupu-kupu malam jujur saja ada yang tak kumengerti meski berkali-kali kupahami tingkahmu lantas siapakah yang mesti menikahi rasa ketika semuanya sudah tak lagi menyendiri. (Melerai CInta) Sumenep,10 Oktober 2010

Merdeka Bukan Dari Asing

Gambar
by: Ferry Arbania Darah ini akan menetas jadi pahlawan sel-sel kemerdekaan yang berjarak-jarak dari menit ke musium dan keraton dari waktu ke khittoh pembebasan dan perlawanan pada siapa lagi aku meminta kesetiaan acungkan bambu runcingmu dengan pengakuan tekuk habis para penjajah abad ini kita tak musti takut menghadang keserekahan, penindasan berbalut sutera hari ini kita tak perlu proklamirkan kemerdekaan lagi kita sudah merdeka, kita sudah bernyali dan punya harga diri kita telah berbangsa dan berserikat kenapa mesti gentar melawan kesewenang-wenangan bersama semangat bung karno, mari kita bebaskan negri ini dari segala bentuk keterjajahan asing (Untuk Semangat NKRI ) 10 Oktober 2010

sajak frustasi

Gambar
(Kukutuk Tingkahmu dengan Puisiku) by: Ferry Arbania Ingin kucongkel kedua matamu dengan ujung celuritku ingin ku muntahkan isi otakmu dengan pistol dipingganggku aku muak aku sebal melihatmu seperti angjing yang datang tanpa salam dan pergi dengan kepongahan jangan kira aku rumput yang mudah kau patahkan jangan pikir hanya otakmu yang bisa berpikir dan membenci aku juga bisa membencimu membakarmu dan menghabisimu tapi alhamdulillah aku masih manusia (Kukutuk Tingkahmu dengan Puisiku) *)mhn maaf  penyair. Sy tidak bermaksud mengajarkan kekerasan. Krn saya sendiri tdk suka kekerasan. Mari selesaikan masalah tanpa sedikitpun yang bermasalah heheheee........ Asta Tinggi Sehabis Subuh, 8 Oktober 2010

Penelitian Sastra: Objek Kajian yang Masih Komprehensif

Berbicara tentang sastra sepertinya tidak pernah berhenti selama manusia itu sendiri ada. Oleh karena itu, penelitian sastra sangat dimungkinkan karena banyak objek sastra yang dapat dijadikan bahan kajian. Diantara objek penelitian itu adalah rentang pembagian waktu, ragam bahasa, teks sastra, perkembangan sastra, dan kritik sastra. Dua sistem besar yang dapat dilakukan dalam penelitian sastra, yaitu sistem mikro dan sistem makro. Pada sistem mikro, teks sastra merupakan pusat perhatian dan sekaligus menjadi bagian instrinsik karya sastra, sedangkan pada sistem makro, pengarang atau sastrawan, penerbit, pembaca, dan kritikus sastra merupakan bagian ekstrinsik karya itu... . [more]

Jakarta Dibundaran Luka

Gambar
(Puisi Ferry Arbania) Tengah malam diubun- ubun langit jakarta kusaksikan rintih perawan dan jejaka tua menari diantara lobang kepedihan mulut mereka tak henti mengulum sekerat daging yang entah keberapa kenyal dan busuk nyaris tak lagi dibedakan Tua muda yang dikayakan birahi dan kekuasaan menutup lesung pipit bidadari malam dengan setumpuk uang dan alkohol seraut wajah yang tak pernah puas mengulum cigarete terus merangkak dan menutup pintu tak ada ponsel yang berdering hanya rintih dan teriakan perih yang berputar-putar di ruang kedap suara sampaipun pagi menjemput sesal mereka tersentak dan terbangun seketika meski tak sempat memandikan kelamin mereka gelombang gelap menidurkan mereka dalam orgasme bumi. Januari 2010 Sehabis meniupkan terompet suka cita

Air Cinta

Puisi Ferry Arbania Berkali-kali kau basuh hatimu dengan air cinta berkali-kali itu pula kau celupkan ragamu dalam jiwaku sentuhan yang tak mungkin terabaikan sepanjang waktu andai saja tak ada cinta lain dibenakmu sudah kubawa pergi mimpi indahmu itu kelangit sambil kutanamkan ciuman kembang di sela tebing awan putih sampai kau lelap dan lebur dalam mabuk rinduku mungkin saja kau yakini tak ada yang terpakai lagi dari sandi ke simbol diam renyuh hari-hariku entah berapa kali ku patahkan alasan-alasan nakalmu itu lidah kebohongan dan candu gulali sumbar keagungan bukankah telah kuterjemahkan sumpahmu itu kedalam lukaku bisakah kau gali kejujuran sebongkah batu atau kita hidup tanpa kejujuran menikam perih rasa dengan air mata kali ini aku bertanya dan waktumu untuk menjawab dengan kesungguhan "benarkah kau telah mencembui setia ku?". 04102010

Seekor Bebek Menetas Cemburu

by: Ferry Arbania ada yang berkata,kalau tidak cemburu itu bukan perempuan kalau tidak marah-marah, konon tak lengkap jadi  sebangsa betina tapi cewek siapakah yang enggan makan bebek saat dunia merapuhkan keyakinan akh, dunia ini benar-benar panggung sandiwara dulu kau bilang hanya aku yang kau suka kau juga yang bilang demi cinta akupun mengangguk tanpa kata kemarin kau bisiki aku rencana mahligai kebahagiaan beratap kejora seikat rasa segenggam jiwa semalam kau tiupkan semerbak sorgawi dan paginya kau hangatkan aku dengan segelas kopi sembari kau bilang bahagia mengecup sabda namun siangnya kau mengeluh tak punya dana buat melukis hitam alismu yang sudah sempurna kurogoh baju celana dengan cepat usulkan pinta kurebahkan punggung penatku kau bilang tak ada waktu untuk sekedar bercumbu "Siapakah perempuan berkalung cinta, saat rupa dunia tak lagi tergenggam  dinyata?" pelan kau mendekatiku dengan sebuah jawaban ...

Private Number Kesalku

by: Ferry Arbania Entah telpon siapa lagi berdering-dering diponsel lelahku suaranya yang sakau tak biasanya privat e number kubiarkan saja dengan sendu iramanya yang memelas sebab tak ada salahnya aku berbagi kesal dengan mereka kupikir orang baik bisa berbuat baik dan baik-baik saja tak usah nomor baru tak usah sembunyikan identitas panggilan tak usah, tak perlu, tak wajar tak manusiawi kuterka-terka panggilan gelapmu kubiarkan nomor baru tergeletak tanpa respon sebab kuyakin konfirmasi sms tak perlu verifikasi kata lantas apa bebanmu memperkenalkan diri kubiarkan saja privat numbermu menyaring hingga kesela dinding kutatap saja ngilu suara telingaku dengan silent lidah tak berucap biarkan biarkan biarkan jemarimu tak perlu diangkat. "Mohon maaf pengacau, aku tak butuh sensasi kiamatmu". 02 Oktober 2o1o/16:36

Mavi Marmara

by: Ferry Arbania