Jakarta Dibundaran Luka

(Puisi Ferry Arbania)


Tengah malam diubun- ubun langit jakarta
kusaksikan rintih perawan dan jejaka tua menari diantara lobang kepedihan
mulut mereka tak henti mengulum sekerat daging yang entah keberapa
kenyal dan busuk nyaris tak lagi dibedakan
Tua muda yang dikayakan birahi dan kekuasaan
menutup lesung pipit bidadari malam
dengan setumpuk uang dan alkohol
seraut wajah yang tak pernah puas mengulum cigarete
terus merangkak dan menutup pintu
tak ada ponsel yang berdering
hanya rintih dan teriakan perih yang berputar-putar di ruang kedap suara
sampaipun pagi menjemput sesal
mereka tersentak dan terbangun seketika
meski tak sempat memandikan kelamin mereka
gelombang gelap menidurkan mereka dalam orgasme bumi.

Januari 2010 Sehabis meniupkan terompet suka cita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Samudra Rasa dan Tiang Ruh: D. Zawawi Imron Mengurai Pancasila sebagai Jantung Iman

Cermin Malam Kiai Sahli: Merengkuh Jejak Cinta dan Luka di Wajah Bumi

Pentingnya Akidah Sejak Balita: Tuntunan Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam Mendidik Anak