Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Buah Kata

Gambar
Buah Kata by: Ferry Ar. biarkan cinta bersenyawa menutup luka-luka yang membaja biar jenuh merontoki cinta kau tetap kekasihku puisiku sudah lapuk direndam cembrumu sedang sajak-sajak pengagungan sudah tak perawan lagi daninspirasimu tumbuh dari getah mawar berduri mak sampaikan letih ini pada presiden ku di negerimu puh, pah, apa lagi kau cari-cari disana sini kau mengerami telur petir seperti sekerat kue yang terlanjur dilempar dalam lumatan lantas siapakah perjakamu yang menutup pintu? tak ada ruang melainkan kamar setubuh yang ditumbuhi lumut kabut tabu dan pisau kecil buatan ibu begitu juga dadamu yang merunduk, kupastikan tak menjamahmu. Mungkin? 31 Mei 2011, Jawa Timur (Dewan Kesenian Madura- DKM)

Meluruskan Kisah Nabi Ibrahim

Meluruskan Kisah Nabi Ibrahim (Versi sebelum diedit) Salah satu kelebihan Harian Umum Republika adalah adanya rubrik Islam Digest setiap hari minggu. Di dalamnya ditemukan beraneka macam khazanah keislaman. Rubrik ini tentunya sangat memberikan manfaat yang banyak kepada khalayak, selama informasi yang disajikan ilmiah dan akurat. Minggu lalu, Islam Digest edisi Ahad, 12 April 2009 dalam kolom Situs mengangkat tema Namrud. Di dalamnya diceritakan tentang seorang raja cerdas yang lalim. Sebagaimana diketahui bahwa Raja Namrud bin Kan’an bin Kusy bin Sam bin Nuh adalah Raja Babilonia (2275-1943 SM) yang hidup semasa dengan Nabi Ibrahim (W. sekitar 1900 SM). Dalam kolom Situs tersebut Islam Digest juga menceritakan ihwal sepak terjang Nabi Ibrahim ketika menghadapi orangtua dan kaumnya termasuk Raja Namrud yang musyrik. Sangat menarik untuk dibaca guna menambah wawasan. Namun sayang, menurut hemat penulis ada uraian Islam Digest tentang Nabi Ibrahim yang sangat be...

Khutbah Bintang

Gambar
by: Ferry Arbania google search Bermula dari rasa yang sebelumnya tak pernah kupikirkan, tiba-tiba kau datang menyelinap dibalik kelam sujudku. Menandai serpihan tangis yang memanjang  dilorong-lorong sepi. Kau begitu angkuh dan tajam menatap kekalahan ini. Hingga tak sadar, ku ucapkan kesal dan takjubku yang pelan-pelan jadi merdu, merayu. Setiap kali aku pergi dengan sisa asa yang masih meredup ditingkap bianglala, kau tampak seperti bayangan waktu dan masa laluku. Setiap kali aku bicara padamu dimalam sunyi tanpa bintang dan ombak tangisku, kaupun hadir menorehkan senyum yang entah apa maknanya. Barangkali umurku sudah tak cukup buat mencumbui kesia-siaan. Seperti juga obsesiku meraih bintang-bintang. Tapii senyummu, ya senyummu makin nakal menggelitik jiwaku, sakitku pasti. Entah berapa lama lagi mesti ku diamkan anak-anak panah itu menempel di dadaku. Ciut, resah dan hasrat mencabutnya sudah tak begitu beranpsu. Aku hanya ingin sepi ini segera berakhir. Dan...

Ronta

Gambar
by: Ferry Arbania Tujuh hari tak beristrikan ronta kenakalanmu berhektar-hektar rinduku mengapung jadi sayap capung berkejaran mengeja aksara sangsi antara cinta dan rasa muak yang bersimaharaja entah dari mana asapi benci memedihkan mata dan hatiku sementara elok wajahmu tak mungkin kutemukan selain kita berdekatan sampai pun getah musim tak lagi percakapan mungkin saja kau telah miskin dengan rasa begitu juga cinta dan ikrar setia yang kita senggamai Membuatku kian takmampu menunggumu hingga remuk begini sudahlah, kita pergi kejalan suka yang kita kehendaki sendiri-sendiri 30 Mei 2011

Ronta

Gambar
by: Ferry Arbania Tujuh hari tak beristrikan ronta kenakalanmu berhektar-hektar rinduku mengapung jadi sayap capung berkejaran mengeja aksara sangsi antara cinta dan rasa muak yang bersimaharaja entah dari mana asapi benci memedihkan mata dan hatiku sementara elok wajahmu tak mungkin kutemukan selain kita berdekatan sampai pun getah musim tak lagi percakapan mungkin saja kau telah miskin dengan cinta begitu juga setia yang kita ikrarkan aku tak bisa menunggumu sampai remuk begini sudahlah, kita pergi kejalan suka yang kita kehendaki sendiri-sendiri 30 Mei 2011

Ronta

Gambar
by: Ferry Arbania Tujuh hari tak beristrikan ronta kenakalanmu berhektar-hektar rinduku mengapung jadi sayap capung berkejaran mengeja aksara sangsi antara cinta dan rasa muak yang bersimaharaja entah dari mana asapi benci memedihkan mata dan hatiku sementara elok wajahmu tak mungkin kutemukan selain kita berdekatan sampai pun getah musim tak lagi percakapan mungkin saja kau telah miskin dengan cinta begitu juga setia yang kita ikrarkan aku tak bisa menunggumu sampai remuk begini sudahlah, kita pergi kejalan suka yang kita kehendaki sendiri-sendiri 30 Mei 2011

Ronta

Gambar
by: Ferry Arbania Tujuh hari tak beristrikan ronta kenakalanmu berhektar-hektar rinduku mengapung jadi sayap capung berkejaran mengeja aksara sangsi antara cinta dan rasa muak yang bersimaharaja entah dari mana asapi benci memedihkan mata dan hatiku sementara elok wajahmu tak mungkin kutemukan selain kita berdekatan sampai pun getah musim tak lagi percakapan mungkin saja kau telah miskin dengan cinta begitu juga setia yang kita ikrarkan aku tak bisa menunggumu sampai remuk begini sudahlah, kita pergi kejalan suka yang kita kehendaki sendiri-sendiri 30 Mei 2011

Air Mata di Wajah Kesedihan Irak

Gambar
Sumber gambar: rimanews.com  Air Mata di Wajah Kesedihan Irak (Lami'ah Abbas Amarah - Irak) Di dada Irak, ku rebahkan kepalaku dan berlinanglah air mata hatinya memikul duka cita yang sama seperti hatiku ia membelai dan menenangkanku; aku pun terlelap tidur seperti anak sungai kesedihan, yang dijalin antara jiwa dan rintihan kami, atau bahkan kebisuan kami. O, ratapan hati, O, mata yang terindah. Aku sudah pernah menyaksikan apa yang telah mempersatukan kami? kekejaman dari peperangan ini? Atau nafsu karena cinta? O, Wajah sedih dari tanah tumpah darah ku air mata apa, cinta apa yang dapat menghapus wajah sedih itu? O, keluargaku, sekarang hanya teror mengisi rasa lapar mereka, dan dahaga mereka. O, kepanikan dan kebangkitan. Adakah jalan yang tak membawa mereka kepada kehancuran dan neraka. Adakah tempat perlindungan bagi mereka? Di masa apa kami ini hidup? Masa barbarisme? atau masa peradaban, yang dipermalukan oleh perbuat...

ENGKAULAH PENYEBABNYA DUHAI KEKASIHKU

Gambar
Puisi Shalâh ‘Abd al-Shabûr Cintaku… Ketika hati berdetak karena cinta Akal ini tergelincir dalam nafsu Perasaan kacau, kata-kata penuh bimbang Tatapan-tatapan kosong dalam jagad yang luas Air mata mengalir dengan tanpa sebab Seperti kesedihanku yang menimpaku dengan tanpa sebab Seperti mimpi-mimpiku yang hancur dan berserak Hingga nyala apinya padam Tanpa sebab Aku tak percaya ketika hati ini berdetak Dan air mata mengalir di pipiku Apa yang menggoncangkan jiwaku Dan menggerakkan tulang rusukku Ini kah denyut rasa sakit Atau perih karena sayat luka Dari susah payahnya hidup Atau kah ini kegembiraan dan cinta Di dasar lubuk hatiku angin berhembus Dan kilat memancar Wahai Tuhanku Perasaan-perasaan aneh apa yang menimpaku Mencengkeram di hati yang bercinta Seperti bah banjir yang mencerabut akar Menyingkirkan batu-batu besar Dan mengalir ke muara Tetapi, wahai cintaku… Meski cinta yang membakar jiwa penuh dengan api Dan meski kelenjar air mataku yang mendidih Dan kesedihanku ya...

Sastrawan Arab Itu Bernama Ghassan Kanafani: Sang Martir Palestina

by: Ferry Arbania Ghassan Kanafani: Sang Martir Palestina Terusir dari Kampung Sendiri Awal musim semi April 1936, seorang pengacara muda memboyong dua anak dan istrinya yang tengah hamil tua dari Yafa ke Akka, kota kecil di wilayah 48 Palestina. Mereka memang biasa berlibur ke rumah nenek mereka di kota itu. Rupanya, rencana berlibur berubah menjadi upacara menyambut kelahiran. Sang istri melahirkan seorang bayi yang diberi nama Ghassan. Beberapa saat lamanya Ghassan tidak melihat Akka. Tiba-tiba sebuah serangan di malam buta membuat keluarga kecil itu kocar-kacir. Pengacara itu pun kembali membawa keluarganya ke Akka, kali ini bukan untuk berlibur tetapi untuk menyelamatkan diri. Pada saat itu usia Ghassan, putranya, baru sebelas tahun. Sementara itu serangan Israel makin meluas hingga akhirnya mencapai Akka. Hanya setahun menikmati lembutnya angin di kota Akka, yaitu dari Tisyrin (November) 1947 hingga April 1948, lagi-lagi mereka dipaksa mengungsi ke desa kecil Tel Fakhar...

Aroma Puisi Aroma Tuhan

by: Ferry Arbania Menulis puisi adalah aktivitas manusiawi yang lumrah dan bebas dilakukan oleh siapapun. Boleh jadi dari kalangan kiyai, dosen, mahsiswa dan bahkan mungkin juga dari kalangan abang becak. Bicara puisi, sama halnya mengurai wajah kehidupan yang terbalut dengan alur siang dan malam, sebuah perjalan waktu yang sangat dinamis dengan hasil yang kontradiktif. Ada siang ada malam. Ada cinta ada juga aksi dendam. Begitu dengan manusia, tidak bisa berjalan sendiri tanpa sentuhan cinta-Nya. Menulis puisi tak ubahnya menyelipkan sekeranjang bunga sorga di teras mushalla atau masjid dan tempat-temat ibadah lainya. Sedang menjalankan ibadah tidak bisa diatur dengan pandangan sempit pada kitab dan dalil-dalil yang seringkali dibatasi oleh sekat-sekat madzhab dan "selera" pengikut aliran tertentu. Jika saja orang bebas menulis puisi, maka kebebasan itu akan berlaku sama terhadap kehidupan kativitas lainnya semisal menjalankan roda pemerintahan dengan adil. Menikmati ...

Puisi Tak Kan Pernah Mati

Gambar
by: Ferry Arbania Puisi Tak Kan Pernah Mati poem by.: Ferry Arbania Jangan menangis penyairku lantaran sajak-sajakmu tak lagi membumi mimbar-mimbar puisi seolah tak layak lagi dibanggakan dan teater pun berwajah selebritis di layar kaca mari pura-pura berdusta penyairku atas kekalahan yang menyilet duniamu kita sama-sama pergi dan melangkah dengan nurani bahkan pada perut yang melilit-lilit ini, kau tetap penyairku, pahlawanku penyair benar-benar semakin gila dan tidak komersil namun jiwanya tetap meraung-raung menatap keseantero jagad mengintip ketidak perwanan hukum dan keadilan lalu menuliskannya diatas kertas suci untuk seterusnya, kau kirimkan pada sejuta aku, ku, diriku, dan aku-ku lainnya yang beku dan kaku. bangkitlah penyairku, jangan risaukan peluru berdesing dirahim nafasmu sebab kematian bukanlah penjara. dan penjara itu adalah ketulusan berjuang dan keikhlasan berbagi darah dan kehidupan sebuah hati. Jangan cemas Indonesiaku, lantaran bunda pertiwi, masih sanggup m...

Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu : Ferry Arbania, kupilih hatimu   dalam iktikaf diamku kupilih senyumu saat matahari bermunajat dalam gerhana kupilih engkau meski dirimu bukan pilihan dan bunga mulai bermekaran kupiih-pilih engkau   ketiak semua pilihan tak bisa kupilih bukan sekedar bisa memilih ketika cinta ingin bahagia mendekatlah kekasih biarkan daun pintu bergerak menutup sendiri lihatlah dada kita sudah sama-sama telanjang dana kantukpun sudah entah kemana merayaplah dalam igauan takdir kemudian berhentilah diketinggian bantal ilusiku lalu, mulailah menebar aroma pada lobang jantungku yang berdetak kian kencang sudah kupilih kau dalam pilihanku untuk apalagi kau berdiri sangsi di atas pelaminan duri mendekatlah.......mulaiala h...... kusiapkan sebatang sigaret jingga untukmu malam ini. Jawa Timur,   29 Mei 2011 23 : 30 Wib

Tak Perlu Mengunci Hati

Gambar
Tak Perlu Mengunci Hati, : Ferry Arbania Wajah cinta sudah terbit di tingkah purnama tak perlu belajar membohongi diri meski untuk sekedar memanjakan hati tak perlu mengunci hati, sebab malam sudah milik kita singkap saja tirai cemburu lalu bawalah semerbak auramu pada kamar jiwaku Sambil mengibarkan aroma napas waktu melucuti satu persatu gaun sangsi merebahkan keluh kesah pada nyali api hingga tanpa kau sadari, hujan cium menebus kejantananku malam ini 29 Mei 2011/

Wajah Ayu ibuku – Puisi Rini Intama

Gambar
 Wajah Ayu ibuku bias cahaya dan renungan yang kubaca di atas batu tentang wajah ayu ibuku ada garis warna dan sunyi pada lagu ketika kanakkanak dulu dialah tembang jiwa yang paling murni Wajah ayu ibuku aku pernah bersemayam dengan nyaman di rahimnya yang kupinjam hingga menghisap air susunya yang kemudian berubah menjadi darah mengaliri nadi dalam detaknya yang sempurna selalu terselip doa pengantar mimpiku di bawah bantal tidur doa yang menebar wangi ribuan bunga wajah ayu ibuku melintaslintas di mana aku ada Rini Intama – Februari 2011

Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri

by: Ferry Arbania Oleh IGNAS KLEDEN Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi. Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut. Sebuah kata, dalam pemikiran Sutardji, diberi beban makna oleh berbagai kekuatan, yang dalam proses selanjutnya tidak mau bertanggung jawab lagi tentang makna yang mereka berikan dan memindahkan tanggung jawab tersebut pada kata yang telah diasosiasikan dengan makna tertentu. Adapun kekuatan-kekuatan yang dianggap men...