|Oleh: Ferry Arbania| KH. D.Zawawi Imron, Budayawan Nasional asal Sumenep Madura bersama Ferry Arbania [Penulis] Di jantung Tegalboto, di kubah ilmu Universitas Jember, bersemayamlah sebuah orasi yang melampaui batas waktu dan ruang. Pada 20 Juni, dalam semarak Bulan Pancasila, bukan sekadar seorang penyair yang berdiri di podium Gedung Soedjarwo, melainkan seorang penjaga mercusuar kearifan: KH. D. Zawawi Imron . Sang 'Celurit Emas' dari Sumenep, Madura, dengan usia yang telah mengukir delapan dasawarsa di wajahnya, membentangkan untaian hikmah, merajut simpul kebudayaan lokal dengan Pancasila, khusus untuk denyut nadi masa depan: kaum milenial. Orasi itu, sebuah ziarah pemikiran, dimulai dengan alunan penjelasan tentang nilai-nilai yang senantiasa menjadi nadi kemanusiaan universal. Tak peduli di mana bumi dipijak, ras apa yang mengalir dalam darah, suku apa yang membentuk identitas, atau bahasa apa yang menjadi jembatan komunikasi—nilai-nilai seperti keadilan yang tak berpih...
(Tafsir Sajak untuk Puisi "Selamat Malam Bumi" Karya Dr. KH. Sahli Hamid, M.Pd.I ) [Oleh: Ferry Arbania] Dari Kanan: Dr. KH. Sahli Hamid, M.Pd.I bersama Dr. KH.Habib Baharun, Pengasuh Ponpes Dalwa. [Dok. Ferry Arbania] Ada kalanya, puisi tak sekadar untaian kata, melainkan sebuah cermin. Cermin yang tak hanya memantulkan bayangan, tetapi juga jiwa yang tersembunyi, bisikan yang terabaikan, dan kebenaran yang acap kali dilupakan. "Selamat Malam Bumi," karya Kiai Dr. KH Muhammad Sahli, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Iman Gadu Barat Kecamatan Ganding Sumenep, adalah cermin itu. Sebuah sapaan malam yang bukan hanya sapaan, melainkan sebuah interogasi mendalam, sebuah ratapan lirih, dan sekaligus sebuah deklarasi filosofis tentang esensi kehidupan. Puisi ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang merayap pelan di senja kesadaran: "Selamat malam bumi / pernahkah engkau istirahat melepas lelah". Di sini, Bumi dipersonifikasikan sebagai entitas yang hidup, be...
Dindayana Khafat, Balita dari keluarga Ferry Arbania di "Dhalem Temor" Karay, saat menyimak kisah para Nabi. [dok.Ferry Arbania] www.ferryarbania.com- Masa balita adalah permata berharga dalam setiap keluarga. Ia adalah fase emas di mana tunas-tunas kehidupan mulai menjejak, menyerap segala stimulus di sekelilingnya bagai spons. Dalam tuntunan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah, fase ini bukan sekadar pertumbuhan fisik, melainkan landasan krusial bagi pembentukan akidah (keyakinan) dan karakter saleh yang akan menuntun mereka sepanjang hidup. Mengukir kebaikan di hati balita adalah tugas mulia yang dibalut dengan samudra kasih sayang. Menanamkan Pondasi Akidah Sejak Dini: Bukan Hanya Teori, Tapi Rasa Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah mengajarkan pentingnya pengenalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sejak usia dini, bahkan sebelum balita mampu berucap sempurna. Tentu, ini bukan tentang hafalan dalil yang rumit, melainkan menanamka...