![]() |
| Selepas me-wawancarai Rektor Unija bersama Ali Hafidz Syahbana, Wartawan Tribunnews yang baik hati jepretan gratis hahaaaaaaa |
MANDALA KARAY — Menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi merekam jejak perlawanan. Jauhsebelum algoritma Google mengenali
ferryarbania.com, nalar saya sudah ditempa di "garis keras" jurnalisme sebagai Kabiro Sumenep dan Redaktur Madura Memorandum Surabaya. Di sanalah, antara berita kriminal dan dinamika sosial, saya belajar bahwa informasi adalah senjata.Namun, di balik ketajaman pena, saya adalah manusia yang "kacau" secara digital. Memiliki lusinan akun Gmail—mulai dari ferry.arbania hingga taretan.dhibik—hanyalah potret dari luapan ide yang tak terbendung. Penyakit lupa password dan mengabaikan perawatan akun adalah saksi bisu betapa saya lebih mementingkan isi kepala daripada sekadar kunci digital.
Secara Administrasi Publik, fenomena "Kekacauan Digital" ini sebenarnya merefleksikan fase transisi masyarakat dari era analog ke digital yang massif. Kita punya semangat memproduksi konten, namun seringkali abai pada tata kelola aset (Digital Asset Management). Namun, di sinilah letak edukasinya: Keterbatasan dan kekacauan masa lalu bukanlah penghalang untuk meraih kedaulatan hari ini.
Meski dulu saya "terbuang" karena tidak punya uang untuk hosting mahal, kesetiaan pada fasilitas gratis Google—mulai dari Gmail hingga Blogspot—menjadi dewa penyelamat. Hari ini, dengan modal satu juta impresi, saya kembali untuk merapikan "kepingan puzzle" yang berserakan itu. Karena pada akhirnya, seorang wartawan sejati tidak diukur dari seberapa banyak ia ingat password, tapi seberapa konsisten ia menjaga kewarasan publik melalui tulisannya.
